Selasa, 28 Mei 2013

5 Cara Cegah Penyebaran Toksoplasma

Rabu, 16 Desember 2009
5 Cara Cegah Penyebaran Toksoplasma

5 Cara Cegah Penyebaran ToksoplasmaToksoplasma merupakan penyakit infeksi yang ditemukan pada hewan di peternakan atau binatang peliharaan. Kucing merupakaan pembawa (carrier) penyakit ini dan dapat menularkan kepada manusia melalui tinja, terutama bila sudah kering dan terhirup oleh manusia. Meski kucing dapat menyebarkan penyakit ini, mereka bukan sumber utama infeksi pada manusia.
Manusia lebih mungkin mengalami toksoplasma saat mengonsumsi daging mentah atau tidak mencuci tangan sampai bersih setelah memegang daging. Kucing juga dapat mengidap toksoplasma dari daging mentah yang dikonsumsinya atau memangsa binatang lainnya, seperti tikus. Kucing yang memangsa binatang mempunyai kemungkinan mengalami paparan atau infeksi. Pada banyak kasus, kucing tidak akan menampakkan tanda-tanda mengalami infeksi.
Namun, jika kucing sudah kehilangan nafsu makan, demam, dan lesu, itu menjadi pertanda bahwa ia mengalami infeksi penyakit tersebut. Manusia yang terkena toksoplasma akan mengalami gejala ringan seperti flu. Masalahnya akan semakin serius pada perempuan yang sedang mengandung atau pada orang yang bermasalah dengan kekebalan tubuhnya. Janin pada perempuan yang terinfeksi toksoplasma akan menjadi cacat saat lahir.
Anda dapat mencegah penyebaran toksoplasma dengan melakukan cara sederhana di bawah ini:
1. Orang yang bukan perempuan hamil atau yang bermasalah dengan kekebalan tubuh sebaiknya membersihkan kandang hewan setiap hari. Membersihkan setiap hari sangat penting karena tinja kucing yang terinfeksi bisa menularkan setelah 36-48 jam.
2. Gunakan sarung tangan karet atau sekali pakai saat membersihkan kandang. Setelah itu, cuci tangan secara merata menggunakan sabun.
3. Sebaiknya sediakan makanan kucing dalam bentuk kering, kaleng, atau yang dimasak secara merata. Jaga agar mereka tidak mencari mangsa sendiri.
4. Masak daging secara matang dan merata. Cuci tangan Anda dan peralatan lainnya yang kontak dengan daging mentah, seperti papan pemotong, pisau, dan bak pencuci. 5. Gunakan sarung tangan saat berkebun. Anda tak tahu di mana tinja kucing biasa bertebaran. Setelah itu, cucilah tangan.
KOMPAS.com. Senin, 14 Desember 2009 | 08:52 WIB
XAMthone plus Mampu Mencegah Toksoplasma
Seperti yang diberitakan oleh www.mangosteentools.com bahwa dalam buah manggis ada sebuah zat yang memiliki antioksidan sangat tinggi yaitu XANTHONE. Dengan melalui berbagai penelitian ditemukan bahwa XANTHONE sangat ampuh mencegah penyakit yang berhubungan dengan virus, bakteri, dan parasit, termasuk didalamnya ada penyakit infeksi toksoplasma yang disebabkan oleh kucing.
Pertanyaannya, di mana kita bisa menemukan XANTHONE? Jangan kuatir, hari ini telah hadir jus super nan ajaib dari kulit buah manggis dengan merek XAMthone plus. Produk Indonesia yang mendunia dan menjadi primadona untuk kesehatan yang menyeluruh. XAMthone plus telah hadir di Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand, Hongkong dan Austria bahkan Amerika Serikat.
Apa yang membuat XAMthone plus begitu memesonakan dunia? Karena XAMthone plus memiliki zat XANTHONE dan keajaiban bagi orang yang mengonsumsinya. Artinya, ketika orang yang menderita penyakit berat dan minum XAMthone plus, dia akan mengalami kesembuhan secara ajaib, begitupun dengan orang yang sehat, kesehatannya akan semakin baik. Mulailah hidup sehat dengan XAMthone plus, bentengilah diri Anda dari serangan toksoplasma dengan XAMthone plus.***

XAMthone Plus Harapan Baru Bagi Penderita Penyakit Degeneratif

Kamis, 04 Februari 2010
XAMthone Plus Harapan Baru Bagi Penderita Penyakit Degeneratif

XAMthone Plus Harapan Baru Bagi Penderita Penyakit DegeneratifMenderita 5 macam penyakit kronis bukanlah sebuah perjalanan hidup yang menyenangkan bagi seorang Garihong (49) asal Jakarta. Saya menderita ginjal, liver, asam urat, diabetes dan kolesterol. “Saya berobat ke dokter dan dokter melarang saya untuk merokok, minum alkohol, makan makanan yang berkolesterol tinggi dan macam-macamlah,” kisah bapak kelahiran Surakarta, Jawa Tengah ini serius.
Sebagai seorang lelaki yang sangat mencintai kebebasan dalam menjalani hidupnya Gari sapaan akrabnya merasa sangat terpukul dengan penyakitnya. Artinya kebebasan dalam melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti makan sop kambing, sop kaki sapi dan sebagainya terhambat.
“Saya sempat menuruti saran dari dokter yang menangani penyakit saya, tetapi setelah minum XAMthone plus semua saran dokter saya ‘lawan’,” beber bapak yang selalu tampil dendi ini. XAMthone plus menjadi harapan baru bagi Gari ketika dirinya harus memutuskan untuk mengonsumsinya sebagai solusi masalah kesehatannya.
“Saya telah minum XAMthone plus 21 botol kurang lebih 3 bulan lamanya. Selama masa penyembuhan, saya minum dengan takaran 30 ml atau setara 6 sendok makan, 3 kali sehari, pagi, siang dan malam, hasilnya menakjubkan,” ujar alumni Universitas Petra, Fakultas Teknik ini penuh keyakinan. Pengakuan Gari terhadap kehebatan khasiat XAMthone plus bukan isapan jempol, melainkan terbukti, sekarang Gari kembali menemukan ritme kehidupannya dalam balutan kebebasan yang sempat hilang sejenak.
“Sekarang saya mau makan apa saja dan melakukan apa saja tidak masalah, semuanya karena XAMthone plus,” lanjutnya. Mulailah hidup sehat dengan XAMthone plus sekarang juga, jangan biarkan kebebasan hidup Anda dirampas oleh penyakit-penyakit itu. Jadikan XAMthone plus sebagai harapan baru bagi kehidupan Anda. Salam Sehat XAMthone plus. KPN


Badanku Sehat Segar Setelah Operasi Berkat XAMthone Plus

Jumat, 30 Oktober 2009
Badanku Sehat Segar Setelah Operasi Berkat XAMthone Plus

Badanku Sehat Segar Setelah Operasi Berkat XAMthone Plus“Beberapa tahun lalu saya menjalani operasi kanker payudara di sebuah rumah sakit di Karawang, Jawa Barat dan sampai saat sebelum saya minum XAMthone plus badan saya rasanya sangat lemas, tidak semangat dan tidak ada gairah semacam itulah,” beber Nancih (35) asal Karawang kepada xamthone.com.

“Selama itu saya mencoba mengonsumsi produk-produk herbal lainnya tidak perlu saya sebutkan namanya, tapi hasilnya tidak memuaskan, badan saya tetap lemas, semangat hidup saya menurun drastis,” lanjut ibu rumah tangga 2 anak, yang jadi energik setelah minum XAMthone plus. Setelah minum produk luar biasa ini ibu tersebut kembali bersemangat untuk menjalani hari-harinya.

“Saya minum XAMthone plus pada pagi, siang dan malam hari sebanyak 30 ml, rasanya enak sebanding dengan khasiatnya,” ujar Nanci. Sebelumnya Nanci mencoba menahan diri untuk tidak menjadi member of XAMthone club, tapi karena keinginan yang begitu besar darinya untuk sehat dan sejahtera maka bergabunglah dia dalam komunitas ini. “Sudah terbukti olehnya sendiri kala dia memutuskan untuk memilih komunitas ini dan sekaranglah hasilnya, dia sehat, segar dan bersemangat,” lanjut Tati.

XAMthone plus, minuman kesehatan kelas premium dengan kualitas terbaik yang dimilikinya membuat semua mata dan hati serta pikiran tertuju padanya. Mau buktikan sendiri, silakan datang setiap Senin-Jumat dalam acara seminar menyibak rahasia khasiat kulit buah manggis di kantor pusat XAMthone plus dengan alamat yang tertera di halaman depan dari website ini. Salam Sehat XAMthone plus.*****

Dokter Masih Skeptis Terhadap Jamu

Kamis, 18 November 2010
Dokter Masih Skeptis Terhadap Jamu

Dokter Masih Skeptis Terhadap JamuJamu sebagai obat tradisional asli Indonesia belum diperlakukan sejajar dengan obat-obatan medis. Selama jamu belum terintegrasi dengan sistem kesehatan formal di Indonesia, maka tidak akan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Agus Purwadianto mengatakan, di kalangan medis jamu masih belum diperhitungkan. Dalam pandangan Agus, kalangan dokter di Indonesia masih berpikiran skeptis terhadap jamu.
`Dokter sebagai tenaga medis yang dipercaya masyarakat justru sering menempatkan jamu sebagai obat nonmedis, karena banyak dokter di Indonesia yang terkesan berperan sebagai petugas promosi dan pemasaran perusahaan farmasi multinasional, sehingga mereka tidak mau mengobati pasien dengan memanfaatkan jamu,` katanya ketika menjadi pembicara pada seminar `Dissemination of Progress Results in Herbal Medicine Development`, di Yogyakarta, Rabu kemarin.
Selain itu, menurut Agus, sampai sekarang belum terbentuk komunitas apoteker spesialis jamu, dan belum banyak rumah sakit yang memiliki unit pelayanan jamu.
Ia mengatakan jamu belum diperlakukan sejajar dengan obat, karena klasifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menganggap jamu seolah-olah bukan obat yang ilmiah karena standardisasi kandungan kimianya belum dipersyaratkan.
Menurut dia, regulasi yang ditetapkan BPOM memberikan anggapan bahwa khasiat jamu belum teruji di laboratorium, melainkan lebih berdasar pada khasiat empiris tradisional yang dipercayai secara turun temurun.
`Pemerintah saat ini sedang menyusun rancangan undang-undang yang menempatkan jamu sejajar dengan obat-obatan konvensional,` katanya.
Dalam sistem kesehatan nasional, lanjut Agus, jamu sebenarnya telah diakui dan diatur dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
`Seharusnya jamu ditempatkan sejajar dengan obat-obatan konvensional,` katanya
Menurut dia, pada Undang-undang (UU) Kesehatan disebutkan jamu merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Ia mengatakan dalam UU Kesehatan disebutkan jamu merupakan bagian dari obat tradisional yang merupakan ramuan turun temurun, dan dibukukan maupun tidak dibukukan.
`Penggabungan metode pengobatan nonkonvensional dengan pengobatan konvensional akan memberikan khasiat pengobatan yang lebih baik dibandingkan jika hanya menggunakan satu jenis pengobatan,` katanya.

Agus mengatakan, untuk menghilangkan kesan tidak ilmiah yang melekat pada jamu, pemerintah sedang menggalakkan saintifikasi jamu, yaitu cara untuk memperoleh bukti ilmiah dari khasiat jamu. `Saintifikasi jamu akan meningkatkan penggunaan jamu yang telah teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas, baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit,` katanya.
Saintifikasi jamu juga diharapkan bakal meningkatkan penggunaan jamu di kalangan profesi kesehatan. YOGYAKARTA, KOMPAS.com -

Harapan Baru Pengobatan Kanker Ginjal


Kamis, 29 April 2010
Harapan Baru Pengobatan Kanker Ginjal

Harapan Baru Pengobatan Kanker GinjalKanker ginjal biasanya tidak menunjukkan gejala hingga penyakit itu menyebar ke organ lain. Kanker jenis ini juga sering kali ditemukan sudah berada pada tahap sulit untuk disembuhkan.
Teknik kemoterapi terbaru memang menunjukkan harapan besar dalam memperpanjang usia pasien pengidap kanker stadium lanjut. Namun, terapi ini juga bisa sangat merugikan mengingat efek racun yang ditimbulkannya.
Dalam temuan terbaru mengenai kanker ginjal, ahli University of California Davis, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi suatu cara menghambat mekanisme pemulihan sendiri oleh gen pada sel-sel kanker. Hal ini diharapkan memperbesar keberhasilan kemoterapi kanker ginjal dan menjadikannya lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi.
"Sel kanker sangat terkenal akan kemampuan mereka untuk secara cepat menciptakan salinan diri mereka. Meski pengobatan termutakhir berhasil memperlambat proses itu, pengobatan tersebut tidak cenderung menyembuhkan dan mungkin memiliki efek samping," kata pemimpin penelitian itu, Robert Weiss, yang memublikasikan temuannya dalam jurnal Cancer Biology and Therapy, edisi Desember.
"Kami ingin menemukan cara membuat kemoterapi seefektif mungkin dengan dosis paling rendah," ujarnya. Pengobatan terbaru bekerja dengan cara merusak kestabilan sel kanker di tingkat DNA, yang mengurangi kemampuannya untuk menggandakan diri. Para peneliti, yang mengetahui bahwa gen p21 memiliki peran penting dalam memulihkan DNA sel kanker dan berpotensi memangkas manfaat bagi pengobatan itu, berusaha mengidentifikasi susunan yang dapat mengganggu jalur tersebut. T
im itu menguji ribuan zat dan 12 diantaranya ditemukan dapat mengikat protein rekombinan p21. Uji coba tambahan menunjukkan tiga bahan itu mampu menurunkan ekspresi p21, dan menghalangi kemampuan sel kanker ginjal untuk memperbaiki diri dan membuatnya lebih responsif terhadap pengobatan yang merusak DNA.
Untuk kajian masa depan, tim peneliti tersebut akan memusatkan perhatian pada tiga calon zat guna memastikan konsentrasi paling rendah yang mungkin membuatnya tetap efektif dan guna lebih mengoptimalkan kandungan antikankernya. Riset kemudian akan menguji bahan itu dengan pengobatan standar dalam contoh hewan sebelum akhirnya diujicobakan pada manusia. Kompas.com/Washington DC. USA