Alkoholisme Berujung Sirosis Hepatis
Cirosis atau pengerasan hati merupakan stadium akhir dari penyakit hati kronis. Banyak hal yang dapat menyebabkan keadaan ini, mulai dari virus hingga hal yang umum ditemui yaitu alkohol.
Artikel Media
Alkoholisme Berujung Sirosis Hepatis
PDF | Cetak | E-mail
Cirosis atau pengerasan hati merupakan stadium akhir dari penyakit hati kronis. Banyak hal yang dapat menyebabkan keadaan ini, mulai dari virus hingga hal yang umum ditemui yaitu alkohol.
Sirosis hati adalah suatu keadaan dimana sirkulasi mikro, anatomi pembuluh darah besar dan seluruh sitem arsitektur hati mengalami perubahan menjadi tidak teratur dan terjadi penambahan jaringan ikat yang luas di sekitar jaringan hati yang mengalami regenerasi.
Penderita sirosis hati lebih banyak dijumpai pada kaum laki-laki jika dibandingkan dengan kaum wanita sekita 1,6 : 1 dengan umur rata-rata terbanyak antara golongan umur 30 - 59 tahun dengan puncaknya sekitar 40 - 49 tahun.
Ada beberapa hal yang menyebabkan sirosis, antara lain :
1. Virus hepatitis (B,C,dan D)
2. Alkohol
Peminum alkohol berat dapat mengalami sirosis, baik karena memperberat penyakit yang ada sebelumnya ataupun secara langsung menyebabkan pembentukan jaringan ikat di hati.
3. Kelainan metabolik
4. Kolestasis, yaitu menumpuknya empedu pada hati.
5. Gangguan Imunitas (Hepatitis Lupoid)
6. Toksin dan obat-obatan (misalnya : metotetrexat, amiodaron, INH, dan lain-lain)
7. Operasi pintas usus pada obesitas
8. Kekurangan nutrisi
GEJALA KLINIS
Gejala klinis penderita penyakit sirosis hepatis sangatlah bervariasi, tergantung dari stadiumnya, mulai dari tidak ada gejala sampai gejala yang sudah berat. Sirosis sendiri memiliki 2 fase dimana fase awal, fase kompensasi, diikuti dengan fase dekompensasi dimana sudah muncul gejala akibat komplikasi dari meningkatnya tekanan darah di hati atau karena gangguan hati atau keduanya.
Pada fase kompensasi biasanya tidak terdapat gejala tetapi sudah terjadi pelebaran pembuluh darah atau penumpukan air di rongga perut. Pada fase dekompensasi gejala yang muncul adalah gejala komplikasi. Penderita penyakit sirosis umumnya akan mengalami perubahan fase dari kompensasi menjadi dekompensasi dalam waktu kurang lebih 6 tahun.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering timbul pada penderita Sirosis Hepatis pada fase dekompensasi diantaranya adalah:
1. Perdarahan saluran pencernaan
Pada penderita Sirosis Hepatis terjadi peningkatan tekanan darah di hati yang dapat mengakibatkan pelebaran pembuluh darah di tenggorokan. Pelebaran pembuluh darah ini pada suatu waktu mudah pecah, sehingga timbul perdarahan hebat. Jika pembuluh darah ini pecah maka gejala yang dapat dilihat adalah muntah darah tanpa didahului rasa nyeri di ulu hati. Darah yang keluar berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku, karena sudah tercampur dengan asam lambung. Selain muntah darah, penderita penyakit sirosis juga mengalami BAB darah kehitaman.
2. Koma hepatikum
Komplikasi yang terbanyak dari penderita Sirosis Hepatis adalah koma hepatikum. Timbulnya koma hepatikum dapat sebagai akibat dari faal hati sendiri yang sudah sangat rusak, sehingga hati tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali. Selain itu dapat juga disebabkan karena perdarahan, gangguan elektrolit, obat-obatan dan lain-lain.
3. Ulkus peptikum
4. Karsinoma hepatoselular (kanker hati)
5. Infeksi
Setiap penurunan kondisi badan akan mudah kena infeksi, termasuk juga penderita sirosis, kondisi badannya menurun.
PENCEGAHAN & PENYEMBUHAN
Yang paling penting adalah mengatasi penyakit hati yang dialami penderita penyakit sirosis sebelum berkembang menjadi sirosis. Hal ini dikarenakan penyebab utama sirosis adalah gaya hidup, seperti alkohol, penggunaan obat-obatan dengan jarum suntik, dan seks bebas tanpa pengaman. Sehingga sebenarnya kita masih dapat mencegahnya. Satu-satunya solusi terakhir yang dapat dilakukan jika penderita sudah mengalami sirosis hati adalah operasi tranplantasi hati. Hal inipun masih kontroversial dan umumnya dilakukan jika resiko kematian karena operasi sama dengan resiko penderita penyakit sirosis itu meninggal karena penyakit hati.
Pengobatan Penyakit Sirosis Hepatis
Solusi Terbaik dan Aman Pengobatan Penyakit Sirosis Hepatis Dengan Xamthone Plus
Apa itu xamthone plus ? Amazing Juice For Amazing Health!!!!
Xamthone plus merupakan sebuah merek produk minuman kesehatan yang berasal dari buah manggis kulaitas nomor 1 . Xamthone plus di formulasikan dari nutrisi murni buah manggis , buah eksotik yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Khasiatnya tidak di ragukan lagi.
Mengapa xamthone plus jus manggis memiliki kemampuan mengobati penyakit Sirosis Hepatis?
Pertanyaan ini terjawab dengan penelitian terkini yang membuktikan bahwa manggis mengandung antioksidan yang sangat kuat yaitu xanthone, melebihi beberapa kali lipat dari kekuatan vitamin c dan E .Khasiat Xanthone bukan hanya antioksidan, tetapi juga antikanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antipoliferasi yang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone mampu merawat beberapa jenis penyakit kanker seperti kanker hati, pencernaan, penyakit paru-paru, dll. Xanthone dalam kulit manggis juga ampuh mengatasi penyakit TBC, ashma, leukemia, antiinflamasi dan antidiare.Faedah lain manggis sebagai antijamur dan antibakteri penyebab jerawat.Tak cuma daging buah manggis yang kaya akan akan vitamin V-66 mg, tetapi juga kulit nan multi khasiat. Antikanker, antioksidan, mujarab mengatasi jantung koroner dan mengatasi HIV.
Solusi Terbaik dan Aman Pengobatan Penyakit Sirosis Hepatis Dengan Xamthone Plus
Apa itu xamthone plus ? Amazing Juice For Amazing Health!!!!
Xamthone plus merupakan sebuah merek produk minuman kesehatan yang berasal dari buah manggis kulaitas nomor 1 . Xamthone plus di formulasikan dari nutrisi murni buah manggis , buah eksotik yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Khasiatnya tidak di ragukan lagi.
Mengapa xamthone plus jus manggis memiliki kemampuan mengobati penyakit Sirosis Hepatis?
Pertanyaan ini terjawab dengan penelitian terkini yang membuktikan bahwa manggis mengandung antioksidan yang sangat kuat yaitu xanthone, melebihi beberapa kali lipat dari kekuatan vitamin c dan E .Khasiat Xanthone bukan hanya antioksidan, tetapi juga antikanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antipoliferasi yang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu ekstrak itu juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone mampu merawat beberapa jenis penyakit kanker seperti kanker hati, pencernaan, penyakit paru-paru, dll. Xanthone dalam kulit manggis juga ampuh mengatasi penyakit TBC, ashma, leukemia, antiinflamasi dan antidiare.Faedah lain manggis sebagai antijamur dan antibakteri penyebab jerawat.Tak cuma daging buah manggis yang kaya akan akan vitamin V-66 mg, tetapi juga kulit nan multi khasiat. Antikanker, antioksidan, mujarab mengatasi jantung koroner dan mengatasi HIV.
Sumber :
Rosenack,J, Diagnosis and Therapy of Chronic Liver and Biliarry Diseases
Sujono Hadi.Dr.Prof.,Sirosis Hepatis dalam Gastroenterologi. Edisi 7. Bandung ; 2002.
Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 FKUI, Jakarta ; 2000
Lesmana.L.A, Pembaharuan Strategi Terapai Hepatitis Kronik C, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UI. RSUPN Cipto Mangunkusumo
Chapter 302. Cirrhosis and Its Complications. Fauci, Braunwald, Kasper. Harrison’s Internal Medicine. 17th edition. The McGraw-Hill Companies. 2008
Guadalupe Garcia-Tsao. Cirrhosis and its sequelae. Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd edition. Saunders Elsevier. Philadelphia. 2007
Rosenack,J, Diagnosis and Therapy of Chronic Liver and Biliarry Diseases
Sujono Hadi.Dr.Prof.,Sirosis Hepatis dalam Gastroenterologi. Edisi 7. Bandung ; 2002.
Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 FKUI, Jakarta ; 2000
Lesmana.L.A, Pembaharuan Strategi Terapai Hepatitis Kronik C, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UI. RSUPN Cipto Mangunkusumo
Chapter 302. Cirrhosis and Its Complications. Fauci, Braunwald, Kasper. Harrison’s Internal Medicine. 17th edition. The McGraw-Hill Companies. 2008
Guadalupe Garcia-Tsao. Cirrhosis and its sequelae. Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd edition. Saunders Elsevier. Philadelphia. 2007




Tidak ada komentar:
Posting Komentar